Kementerian Koperasi Perkuat Kolaborasi ASEAN untuk Dorong Koperasi Pertanian dan Ketahanan Pangan Regional

(Yogyakarta, 12–13 Oktober 2026), Kementerian Koperasi melalui Biro Hukum dan Kerja Sama menyelenggarakan Sidang ke-31 The ASEAN Centre for the Development of Agricultural Cooperatives (ACEDAC) dan Sidang ke-26 The ASEAN Sectoral Working Group on Agricultural Cooperatives (ASWGAC) di Yogyakarta pada 12–13 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi negara-negara anggota ASEAN untuk memperkuat kerja sama, meningkatkan kapasitas koperasi pertanian, serta mendorong perluasan akses pasar produk koperasi di kawasan Asia Tenggara.

Rangkaian kegiatan diawali dengan opening ceremony yang dibuka oleh Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X; perwakilan Sekretariat ASEAN, Dian Sukmajaya; serta dihadiri oleh delegasi negara-negara anggota ASEAN, meliputi Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Timor-Leste. Kegiatan ini juga dihadiri oleh pengurus koperasi serta perwakilan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Dalam pelaksanaannya, pada Plenary Session ACEDAC membahas berbagai isu strategis terkait Strengthening the role of agricultural coop in food marketing chain, Enhance the role of women in agricultural coop in ASEAN, Exchange Visit of Cooperatives Personnel and Leaders, Strategic Alliance Project on Data and Information Exchange, Strategic Alliance Project in the Marketing of Beans and Pulses, The 9th ASEAN Cooperatives Business Forum (ACBF) by ACEDAC Secretariat, Expose Cooperation Projects and Activities Under Strategic Plan of Action (SPA) 2026 – 2030 by ACEDAC Secretariat.

Pada Plenary Session II ACEDAC, pembahasan difokuskan pada Strategy to Strengthen The ACEDAC and Agricultural Cooperatives as ASEAN’s Food Security Frontline, Presentation from CDF Canada by Mr. Robby Tulus. Sesi ini juga menghadirkan presentasi dari perwakilan koperasi Indonesia yang membagikan praktik baik dan keberhasilan pengembangan usaha. Koperasi Nira memaparkan keberhasilannya dalam produksi gula nira, sedangkan Koperasi Sarono Makmur memperkenalkan produk susu dan yoghurt. 

Paparan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi produk koperasi Indonesia sekaligus berbagi pengalaman mengenai pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal.

Sementara itu, pada Plenary Session ASWGAC Matters Arising from the Special SOM 46th AMAF, PrepSOM-47th AMAF, 47thAMAF Meeting, Plan of Action of the ASWGAC, 2026-2030, Exchange of Information on Agricultural Cooperatives Activities.

Agenda lainnya meliputi Capacity Building Project for Farmer’s Organizations to Support the Development of Food Value Chain in ASEAN Countries (CBF), Project on Human Resource Development in Food-related Areas through Partnership with Universities in ASEAN Region., ASEAN - JICA Food Value Chain Development Project, dan Promoting the Network for ASEAN Rural Product Development on One Village One Product.

Berbagai agenda tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antarnegara ASEAN dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, mendorong inovasi produk, dan mengembangkan rantai nilai pertanian yang berkelanjutan.

Keterlibatan perwakilan koperasi Indonesia dalam forum ini menjadi langkah penting untuk memperluas konektivitas pasar (market connectivity) dan membuka peluang akses pasar bagi produk-produk koperasi pertanian di negara-negara ASEAN. Melalui pertukaran pengetahuan, promosi produk, dan penguatan jejaring kerja sama, koperasi Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas kemitraan bisnis, serta mengoptimalkan potensi ekonomi lokal agar dapat menjangkau pasar regional.

Penyelenggaraan sidang ACEDAC dan ASWGAC ini menegaskan pentingnya kolaborasi antarnegara ASEAN dalam membangun koperasi pertanian yang tangguh, produktif, dan berdaya saing. Dengan memperkuat peran koperasi dalam rantai nilai pangan, kerja sama regional diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif di kawasan ASEAN.